Terimakasih telah bertandang ke Situs ini

PENYADARAN MULTIKULTURAL BAGI ORANG MUDA

Rabu, 30 April 2008


OLEH : KRISTIANUS ATOK
CATATAN DAN RENUNGAN
Ada 4 kelompok etnik utama di Kalbar: Dayak, Melayu, Cina dan Madura(Jayadi,2004). Sejak masa kolonialisme hingga sekarang ini, seluruh kelompok etnik telah terlibat dalam persaingan tajam untuk merebut dominasi ekonomi, politik, dan sosio-kultural di Kalbar. Dengan kata lain, hubungan mereka sejak awal memang cenderung konfliktual. Kehadiran negara moderen –mulai dari Belanda, Jepang, hingga Indonesia— secara langsung atau tidak, cenderung membiarkan bahkan memanfaatkan hubungan inter-etnik yang konfliktual tersebut. Di masa kolonial, dari waktu ke waktu, semua kelompok etnik pernah berperang satu sama lain. Dan di era reformasi sekarang ini, mereka kembali terlibat dalam peperangan simbolik dalam bidang kultural, institusional, dan struktural.
Ada 3 insiden kekerasan etnik di Kalbar yang perlu menjadi renungan (ADA APA DENGAN PERGANTIAN ORDE PEMERINTAHAN NASIONAL?). Pertama, beberapa sub-etnik Dayak melakukan ethnic cleansing terhadap sekelompok Cina yang tinggal di pedalaman, di sekitar perbatasan dengan Malaysia, yakni di wilayah Sambas, Bengkayang, Landak, dan Sanggau. Insiden itu , berlangsung sekitar 2 bulan, dari Oktober hingga November 1967, satu titik waktu dimana rezim Orde Lama beralih ke Orde Baru. Kedua, beberapa sub-etnik Dayak melakukan ethnic cleansing terhadap sekelompok Madura yang tinggal di Bengkayang, Landak, dan Sanggau. Insiden itu terjadi satu kali, berlangsung sekitar 2 bulan, dari Januari hingga Februari 1997, satu titik waktu dimana rezim Orde Baru segera akan berakhir dan akan beralih ke orde Reformasi. Dan ketiga, satu sub-etnik Melayu melakukan etnic cleansing terhadap sekelompok Madura yang tinggal di Sambas. Insiden ini terjadi satu kali, berlangsung sekitar 2 bulan, dari Februari hingga Maret 1999, satu titik waktu dimana Orde Reformasi siap-siap beralih ke orde Otonomi Daerah .

PLURALISME DAN MULTIKULTURALISME
(1) Pluralisme bertautan dengan doktrin atau “ isme” tentang penyadaran individu atau kelompok terhadap kesetaraan antara beragam kebudayaan dalam suatu masyarakat majemuk (multikultural), sedangkan (2) multikulturalisme bertautan dengan doktrin atau “isme” tentang penyadaran individu atau kelompok atas keberagaman kebudayaan, yang pada gilirannya mempunyai kemampuan untuk mendorong lahirnya sikap toleransi, dialog, kerjasama diantara beragam etnik dan ras.
Perspektif multukultural maupun multikulturalisme sebenarnya menekankan pergantian cara berpikir kita sebagai anak bangsa. Artinya, tidak lagi berpusat pada satu kebudayaan dominan, tetapi melihatnya setara. Untuk itu perlunya kesepakatan tentang etika berbangsa dan bernegara yang bisa menjamin kehidupan harmoni.
Multikulturalisme yang terjadi di Eropa, secara defacto, merupakan aliansi pemikiran yang dibentuk oleh pemikiran etnik-etnik dengan menganut paham nasionalis yang pada gilirannya menganjurkan terbentuknya sebuah kebudayaan makro.

ANCAMAN YANG BERDIMENSI GLOBAL
Pertama, menguatnya gejala fundamentalisme agama yang saat ini menjadi fenomena di seluruh penjuru dunia. Seperti yang dituturkan Karen Armstrong (2002), fenomena “fundamentalisme” keagamaan ini sungguh mengejutkan di akhir abad ke-20. Fundamentalisme yang dimaksud tidak hanya terjadi dalam agama keluarga semit—Yahudi, Kristen, dan Islam—tetapi di seluruh agama-agama “formal” dunia. Fundamentalisme agama adalah keinginan kuat kembali ke ajaran fundamental agama. Lebih jauh Armstrong berpendapat, fundamentalisme tidak hanya sebagai gerakan kembali ke akar, tetapi sebagai gerakan melawan modernitas yang mengakibatkan krisis multidimensi di dunia. Kedua, merebaknya terorisme global dan kejahatan kemanusiaan universal yang menggunakan ajaran agama sebagai “kedok” dan legitimasi. Sebut saja pengeboman WTC 11-9-01, agresi meliter Amerika terhadap Afghanistan yang didorong ucapan “Crusade” George W Bush, Bom Bali dan Marriot, eskalasi kekerasan di Timur Tengah akibat pertarungan fundamentalisme Islam dan Yahudi, krisis nuklir Pakistan dan India yang bersumber dari konflik fundamentalisme Islam dan Hindu, dan aksi-aksi kekerasan di belahan dunia lain yang menggunakan “label-label” agama.


ANCAMAN YANG BERDIMENSI LOKAL
Ciri penting dari Era Otonomi daerah adalah PILKADA. Dari 8 Kabupaten yang sudah menyelenggarakannya di Kalbar, semua Calon yang diusung Parpol adalah orang-orang dari etnik asli di daerah tersebut. Pada saat kampanye, mobilisasi etnik terjadi. Mobilisasi etnik dapat melahirkan sentimen etnik, hal inilah yang perlu diwaspadai, karena kalau keblablasan akan sangat merugikan kehidupan multikultur yang mau dibangun.
MODAL SOSIAL MULTIKULTURALISME ORANG DAYAK KANAYATN (SALAKO) DALAM MENJAUHI KONFLIK
1. ADAT BUAH TANGAH
Adat Buat Tangah dilaksanakan di dalam rumah sebelum kegiatan bahaupm menyangkut penyelesaian sengketa. Jadi adat ini adalah upaya meredam emosi akibat perselisihan. Bisa juga diartikan bahwa adat ini adalah hukuman atas perbuatan ringan ( tindak pidana ringan ) dan yang ditimpakan kepada pelanggaran yang dapat berdamai dengan lawannya tanpa campur tangan orang ketiga.
2. ADAT PAMABAKNG
- Adat pamabakng mempunyai dampak yang sangat positip mengupayakan penyelesaian komplik sejarah damai. Makna yang paling penting dari adat pamabakng ini adalah :
(1) Jika pamabakng tidak di pasang, dapat diartikan :
a. Bahwa pihak pelaku menetang pihak ahli waris korban untuk berkelahi atau perang antar kelompok ahli waris.
b. Pihak pelaku tidak mau sama sekalai membayar adat.
c. Pengurus adat seolah-olah membiarkan dan malahan menghasut kedua belah pihak untuk saling menyerang.
(2) Jika pamabakng sudah terpasang dapat di artikan :
a. Kasus tersebut sudah di tangan pengurus adat
b. Pihak pelaku sudah mengakui kesalahannya dan besedia membayar hukuman adat.
3. LEMBAGA ADAT
Lembaga adat merupakan bagian dari kesejarahan dan organisasi rakyat yang masih hidup. Adat menurut Koentjaraningrat (2000:10-11) adalah wujud ideel dari kebudayaan. Adat dapat dibagi lebih khusus dalam empat tingkat, yaitu (1) nilai budaya, (2) norma-norma, (3) hukum, (4) aturan khusus. Institusi adat merujuk kepada norma karena berkait dengan peranan dalam masyarakat. Institusi adat menjadi penting karena didalamnya terkandung makna kepemimpinan lokal dengan sistem kekuasaan yang melekat padanya. Alat kekuasaan ini lebih bersifat moral spiritual yaitu pada keyakinan pada hubungan-hubungan yang seimbang antara manusia dengan manusia dan manusia dengan alam dan hubungan yang seimbang antara manusia dengan penciptanya. Institusi adat yang menempatkan dirinya pada ranah moral spiritual menyebabkan institusi ini masih hidup di komunitas . Kepemimpinan dalam institusi ini tidak hanya mempertahankan kepercayaan orang banyak, tetapi juga memperkuat rasa percaya diri institusi ini.

UPAYA
ADIL KA TALINO-BACURAMIN KA SARUGA-BASENGAT KAJUBATA , kata-kata ini sangat menggambarkan bagaimana orang Dayak menempatkan dirinya dalam kerangka pluralisme-multikulturalisme. Kata-kata bijak ini perlu diamalkan kita semua.
Sebagai model masyarakat multikultural Indonesia adalah sebuah masyarakat yang berdasarkan pada ideologi multikulturalisme atau bhinneka tunggal ika, yang melandasi corak struktur masyarakat Indonesia pada tingkat nasional dan lokal. (motto bangsa ini perlu dipraktekan dalam hidup berbangsa dan bernegara)
Bersamaan dengan upaya-upaya tersebut diatas, sebaiknya Depdiknas R.I. mengadopsi pendidikan multikulturalisme untuk diberlakukan dalam pendidikan sekolah, dari tingkat SD sampai dengan tingkat SLTA. Multikulturalisme sebaiknya termasuk dalam kurikulum sekolah, dan pelaksanaannya dapat dilakukan sebagai pelajaran ekstra-kurikuler atau menjadi bagian dari kurikulum. Dalam sebuah diskusi dengan tokoh-tokoh Madura, Dayak, dan Melayu di Pontianak baru-baru ini, mereka itu semuanya menyetujui dan mendukung ide tentang diselenggarakannya pelajaran multikulturalisme di sekolah-sekolah dalam upaya mencegah terulangnya kembali di masa yang akan datang konflik berdarah antar sukubangsa yang pernah mereka alami baru-baru ini (lihat Suparlan 2002).



1 Comment:

MATHEUS BIBIN said...

WAH TULISAN INI BAGUS BANGET.....saya merasa sangat ingin mewujudkan semua itu pak