Terimakasih telah bertandang ke Situs ini

PELAJARAN HIDUP DARI GANG TELUK BETUNG III

Selasa, 18 Maret 2008


Oleh : Kristianus Atok

Hari ini tepat 10 hari mertuaku meninggal dunia. Kematiannya adalah peristiwa biasa yang terjadi dalam kehidupan kita. Oleh karenanya saya tidak bermaksud mengeksploitasi peristiwa ini dari sisi filosofisnya, saya mau melihatnya dari sisi sosiologis masyarakat kota dan roh multikultur . Ada cerita menarik dari sisi itu, terutama seputar hidup saling toleransi di salah satu bagian kecil yang namanya Gang di sudut kota Pontianak. Jumlah Kepala Keluarga di gang ini sebanyak 86 KK. Dari jumlah itu hanya Mertuaku sekeluarga saja yang beragama Khatolik , satu keluarga beragama Budha dan selebihnya Islam. Ada Mesjid yang selalu penuh aktivitas agama Islam di gang ini. Mereka sekeluarga tinggal disini sejak tahun 1974. Pada masa itu gang ini berupa parit yang dapat dilalui perahu. Baru pada tahun 80 an, parit ini ditimbun tanah dan sekarang menjadi jalan gang. Bekas parit sama sekali tak kelihatan lagi. Mertuaku yang meninggal namanya Mardonius Lukas Markum, usianya 62 tahun. Beliau meninggal karena serangan jantung, dan penyakit lanjut usia. Serangan jantung ini dialami beliau ketika selesai mengikuti Misa pagi di Gereja. Beliau terserang di gereja dan langsung kami larikan ke rumah sakit terbaik di kota Pontianak yaitu Rumah Sakit Santo Antonius.
Gang tempat tinggal keluarga Beliau namanya Gang Teluk Betung III, Jalan Khatulistiwa , Kelurahan Siantan Tengah, Pontianak Utara. Di sekitar rumah mertuaku tinggal suku Melayu, Jawa, Tionghoa dan Bugis, namun di bagian dalam gang tinggal suku Madura.
Cerita yang menarik bermula ketika para Tetangga diberitahu tentang kematian mertuaku lewat pengeras suara Mesjid. Warga langsung berdatangan dan membantu persiapan kedatangan jenasah. Maklum semua anggota keluarga kami telah berkumpul di Rumah sakit .Rumah duka ditinggalkan dan kuncinya dititipkan dengan tetangga , rumah ini dipercayakan ke warga semua di gang tersebut. Hanya dalam tempo kurang dari satu jam sebuah tenda besar telah berdiri berikut 200 kursi telah dijejer rapi. Semua itu dikerjakan oleh warga di gang tersebut. Pengurus Rukun Tetangga ( RT) di gang tersebut pantas diteladani, karena rupanya telah lama mereka memiliki tenda dan kursi-kursi hajatan yang dipinjamkan bagi warga-warga gang yang memerlukan..

Jenasah mertuaku disemayamkan selama satu malam di rumah duka. Pada malam itu banyak warga yang ikut menemani kami sekeluarga menunggui jenasah. Banyak sekali handai taulan dan para sahabat mertuaku datang melayat. Hal ini mengindikasikan bahwa selama hidupnya beliau ini memiliki banyak sahabat dan familiar dengan para tetangga. Keesokan harinya beliau dimakamkan dan warga yang beragama khatolik dari berbagai RT di sekitar gang Teluk Betung III selama tiga malam berturut-turut menyelenggarakan ibadat malam. Ibadat setiap malam berlangsung baik dan lancar. Penduduk yang tinggal di gang ini apabila hendak ke luar maka akan melewati jalan lain agar tidak mengganggu jalannya ibadat. Maklum halaman rumah duka sempit sehingga kursi-kursi menggunakan badan jalan .
Yang paling berkesan adalah Misa arwah pada hari ketujuh, misa ini dihadiri hampir 500 orang dan dipimpin langsung oleh Pastor Paroki Stela Maris Siantan Pontianak. Warga yang ikut misa boleh dikatakan berasal dari seantero kota Pontianak. Sempitnya jalan gang membuat lokasi parkir kendaraan terbatas. Penduduk di gang tersebut bukannya marah atau terganggu. Mereka justru mempersilahkan setiap halaman rumahnya dipakai sebagai tempat parkir. Gratis , bahkan banyak diantara warga selain menyediakan lokasi parkir juga meminjamkan kursinya, karena kursi RT terbatas. Selain itu ketika Misa secara khatolik berlangsung pada saat bersamaan warga yang Islam juga menyelenggarakan tahlilan di salah satu rumah yang berjarak 5 rumah dari rumah duka. Mereka juga menyiapkan makanannya sendiri. Selesai misa dan tahlilan masing-masing makan bersama dan setelah itu pamit pulang. Ketika pamit pulang semua warga baik Islam dan Khatolik berbaur saling menyalami dan sama-sama menyalami keluarga yang berduka. Suasana ini sungguh sangat berkesan, sangat terasa bahwa warga yang ada berkumpul tanpa dipisahkan oleh agama yang diyakininya. Hidup berdampingan berbeda suku dan agama itu terasa indah dan sungguh nyata.
Perlu diketahui pula bahwa di keluarga mertuaku sudah sejak lama terbangun roh multikultur, agama tidak menjadi masalah. Agama dimaknai sebagai jalan ke Surga dan penuntun kehidupan di Bumi. Semua Agama mengajarkan kebaikan untuk itu haruslah dipraktekan secara benar dan sungguh-sungguh, kira-kira demikianlah filosofi yang dianut keluarga ini. Adik ayah mertuaku (Paman mertuaku) ini ada yang beragama Islam bahkan beliau ini sampai dua kali naik Haji. Ketika beliau masih hidup, setiap kali ke Pontianak selalu bermalam dirumah mertuaku dan bila kunjungannya bertepatan dengan bulan puasa, ibu mertuakulah yang menyiapkan makan sahur untuknya. Beliau meninggal dunia 5 tahun lalu di Desa Sungai Kelambu Kecamatan Tebas Kabupaten Sambas. Semua keluarga di Tebas ini tentulah Islam, saya pernah merayakan idul Fitri disana 7 tahun yang lalu. Selain di Sambas, anggota keluarga mertuaku yang Islam juga tinggal di Aur Sampuk ,Ibul Sebangki dan Desa Pak Reweng daerah Parit Mayor Pontianak Timur. Keluarga mertuaku ini Selain ada yang Islam adapula yang Kristen Protestan. Cucu abang mertuaku ( mertuaku anak ke-4 dari 6 bersaudara) satu orang menjadi Pendeta dalam agama Kristen Protestan dan telah pula bergelar Doktor Theologi. Dia menjadi pendeta di Bogor Jawa Barat. Setiap hari raya keagamaan selalu saling kunjung-mengunjungi.

Kematian mertuaku telah mempertemukan semua keluarga dari tiga agama dan penerimaan warga di dalam gang tempat beliau tinggal hampir 40 tahun yang semuanya beragama Islam. Dari peristiwa ini dapatlah kita katakan bahwa masyarakat kota yang sangat heterogen dan dikenal invidualistis ternyata dapat pula mempraktekan hidup bertoleransi secara nyata. Sungguh peristiwa ini menjadi inspirasi untuk pembelajaran hidup yang lebih baik.


0 Comments: